Oleh: fkthldeptankabbone | Februari 6, 2010

KONSEP PERTANIAN TERPADU DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI LAHAN SAWAH IRIGASI

Kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia sejak PELITA I telah berhasil meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia. Kalau pada awal pelita I (1968) pendapatan per kapita bangsa Indonesia hanya US$ 70, maka tahun ketiga pelita IV (1997) telah melebihi US$ 1150. Akan tetapi krisis ekonomi dan moneter pada 1998 mengakibatkan pendapatan per kapita turun lagi menjadi US$ 735. Krisis juga mengakibatkan jumlah penduduk miskin kembali meningkat pada tahun 1999 (Sinukaban, 2008).
Faktor-faktor yang menyebabkan mereka ini miskin dan kekurangan makanan antara lain karena produktivitas lahan yang rendah, lahan pertanian yang semakin sempit, harga hasil pertanian yang rendah, kesempatan kerja di luar usaha tani atau pendapatan di luar usaha tani sangat terbatas dan pengelolaan lahan kering yang kurang sesuai dimana tidak hanya menurunkan produktivitas lahan tetapi juga meningkatkan erosi yang pada akhirnya menyebabkan lahan tidak produktif atau lahan kritis.
Penduduk Indonesia yang secara langsung penghasilannya dari kegiatan usaha tani pertanian sebesar 48,5% yang tersesebar di lebih kurang 76.000 desa. Petani yang mempunyai lahan sendiri sebanyak 70%, sedangkan yang tidak mempunyai lahan sendiri sebanyak 30%. Petani yang mempunyai lahan sendiri sebagian besar (51%) luas lahannya di bawah 0,5 hektar (Anonim, 2009).
Pendekatan sistem pertanian berkelanjutan adalah pendekatan sistem pertanian yang mengintegrasikan agrotekhnologi baru ke dalam sistem pertanian yang telah ada dengan tujuan untuk meningkatkan. Kualitas kehidupan (quality of life). Dimana untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu pendekatan pertanian berkelanjutan yang bersifat pro aktif, berdasarkan pengalaman dan partisipatif.
Sistem pertanian berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan menggunakan empat macam model sistem, yaitu sistem pertanian organik, sistem pertanian terpadu, sistem pertanian masukan luar rendah, dan sistem pengendalian hama terpadu.(Salikin, 2003)
Konsep sistem pertanian terpadu adalah mengkombinasikan berbagai macam spesies tanaman dan hewan dan penerapan beraneka ragam teknik untuk menciptakan kondisi yang cocok untuk melindungi lingkungan juga membantu petani menjaga produktivitas lahan mereka dan meningkatkan pendapatan mereka dengan adanya diversifikasi usaha tani.
Pertanian terpadu merupakan sistem pertanian yang selaras dengan kaidah alam, yaitu mengupayakan suatu keseimbangan di alam dengan membangun suatu pola relasi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan di antara setiap komponen ekosistem pertanian yang terlibat, dengan meningkatkan keanekaragaman hayati dan memanfaatkan bahan-bahan limbah organik. Peningkatan kaenekaragaman hayati merupakan hal penting dalam menanggulangi hama penyakit, pengurangan resiko, sedangkan pemanfaatan limbah organik perlu untuk menciptakan keseimbangan siklus energi (terutama unsur hara) yang berkelanjutan, serta untuk kepentingan konservasi tanah dan air.
Salah satu konsep penerapan pertanian terpadu yang dapat meningkatkan pendapatan usaha tani petani pada lahan sawah irigasi adalah konsep integrasi tanaman padi, perikanan dan peternakan (integrasi Padi, Ikan, Itik, Azolla dan Sapi), integrasi ini disamping mendatangkan pendapatan sampingan, penggabungan usaha tani terpadu yang berpijak pada pemanfaatan hubungan saling menguntungan antara satu sama lain ini (simbiosis mutualisme) juga memberikan dampak lingkungan yang positif bagi pertanian berkelanjutan. Hanya saja, mindazbesi ini baru bisa dilaksanakan pada sawah yang airnya lancar INTEGRASI TANAMAN PADI, IKAN, ITIK, AZOLLA DAN SAPI
Integrasi Padi, Ikan, Itik, Azolla dan Sapi di Kecamatan Lamuru
Menurut data Statistik 2007 kecamatan Lamuru merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten bone yang memiliki luas lahan untuk persawahan 2.272 Ha (pengairan PU sebanyak 534 Ha,Pengairan Non PU sebanyak 1.146 Ha danTadah Hujan 592 Ha) dan 18.528 Ha untuk lahan kering yang terdiri dari lahan perkebunan, tegalan, perkebunan, padang rumput dan hutan rakyat. Sementara untuk bidang peternakan pada tahun 2008 populasi ternak sapi sebanyak 3.476 Ekor dan itik sebanyak 2.594 ekor.
Pada umumya petani di kecamatan Lamuru melakukan Sistem pemeliharaan sapi di dengan cara dilepas di daerah persawahan atau di padang rumput, hanya sebagian kecil yang mengandangkan ternaknya. Cara tersebut tentu kurang menguntungkan karena kesehatan sapi kurang terjamin, pertumbuhan sapi terhambat dan kotoran sapi tercecer dimana-mana padahal kotoran sapi ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk padi sawah.
Berdasarkan luas lahan sawah yang diusahakan, potensi jerami padi di lahan sawah Kecamatan Lamuru cukup tinggi. Selama ini jerami padi dimanfaatkan untuk pakan ternak tetapi dalam jumlah yang masih sedikit, sebagian besar jerami padi hasil panen hanya dibakar. Menurut Anonim (2007) perbandingan antara bobot gabah yang dipanen dengan jerami (grain straw ratio) umumnya berkisar antara 0,3 – 1,2 atau umumnya perbandingan 2:3. Dari setiap hektar sawah mampu menghasilkan jerami padi 5–8 ton/ha/panen, tergantung pada varietas yang ditanam dan tingkat kesuburan tanaman.
Pada umumnya petani di kecamatan lamuru mengusahakan itik dan ikan hanya sebagai usaha sampingan, dan mereka umumnya tidak mengetahui peranan azolla yang terdapat pada lahan sawah mereka sebagai pakan ternak dan ikan.
Sistem pengelolaan dengan mengintegrasikan tanaman padi, itik, ikan, azolla dan sapi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi, meningkatkan pendapatan petani dari hasil samping pemeliharaan sapi,itik, dan ikan, menekan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida anorganik, menyediakan pakan sapi dari limbah pertanian (jerami padi), menyediakan pakan ikan dan itik dari azolla, , menyediakan pupuk organik dari limbah sapi dan biogas untuk energi alternatif bagi petani
Pemeliharaan ternak, perikanan dan budidaya tanaman pertanian merupakan faktor yang saling menunjang dan terkait dalam pengelolaannya. Berdasarkan kondisi aktual yang terjadi saat ini, terlihat bahwa beberapa petani lahan sawah irigasi sebenarnya secara massive telah melakukan usaha ternak sekaligus bersama dengan usaha tani tanaman padinya dan perikanan. Tetapi sebagian petani belum memanfaatkan limbah yang dihasilkan pada kegiatan usaha taninya untuk menunjang baik kegiatan pertanian, peternakan ataupun perikanan yang dilakukan.
Penggabungan beberapa jenis komoditas dalam ekosistem sawah irigasi yang memiliki hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) ini tidak hanya memberikan keuntungan pada ekosistem itu sendiri namun juga keuntungan bagi petani yang mengusahakannya, yaitu : dapat meningkatkan pendapatan dan pemenuhan karbohidrat serta protein hewani. Dengan mengusahakan padi, sekaligus ikan, azolla, bebek dan itik ini tentu saja memberikan pendapatan yang lebih besar dibandingkan bila kita hanya mengusahakan satu komoditas saja.
Pengusahaan tanaman padi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan semata namun juga untuk memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber karbohidrat. Sedangkan adanya ikan dan bebek ini secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi sumber protein hewani.
Karena dengan adanya kotoran yang berasal dari bebek sapi serta ikan menjadi pupuk organik yang selain dibutuhkan tanaman padi juga dapat memperbaiki sifat fisik maupun kimia tanahnya. Kotoran yang dihasilkan oleh bebek maupun sapi dapat dimanfaatkan sebagai media makanan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang menjadi makanan alami ikan. Sedangkan perilaku bebek dan ikan yang suka mengaduk-aduk tanah dalam mencari makanan dapat menyebabkan struktur tanah sawah menjadi lebih baik.
Tidak semua lokasi bisa menerapkan usaha integrasi ini karena selain memerlukan penanganan lebih intensif juga harus memenuhi beberapa kondisi tertentu. Karena dalam penanaman padi ini juga mengikut sertakan ternak ikan, maka sistem penanamannya pun harus memberikan keleluasan bagi ikan maupun pertumbuhan azolla itu sendiri. Jadi, dalam hal ini budidaya minapadi-azolla sangat dianjurkan menggunakan cara tanam sistem legowo.
Teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak anam antar rumpun dan antar barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar jarak antar barisan sehingga seolah-olah rumpun padi berada dibarisan pinggir dari pertanaman yang memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir border effect). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan produksi rumpun padi yang berada di bagian dalam (Anonim, 2007).

Cara tanam legowo ini tidak lain adalah merupakan upaya rekayasa ruang tumbuh menjadi barisan tanaman pinggir yang diharapkan dapat meningkatkan produksi padi. Adanya ruang antar baris tanaman yang lebih lebar tentu saja memberikan perkembangan ikan dan tanaman azolla tumbuh secara baik. Selain untuk tujuan tersebut, penggunaan cara legowo akan mempermudah bagi kita dalam pemeliharaan ikan, azolla serta tanaman padi itu sendiri.
Azola adalah sejenis tumbuhan paku air biasa ditemukan di perairan tenang seperti danau, kolam, sungai, dan pesawahan. Para petani biasanya menganggap azola sebagai gulma atau limbah pertanian. Azola termasuk ordo Salviniales, famili Azollaceae, dan terdiri atas enam spesies, yaitu : A. filiculoides, A. caroliana, A. mexicua, a. microphylla, A. pinnata, dan A. nilotica. Spesies yang banyak di Indonesia terutama di pulau Jawa adalah A. pinnata, dan biasa tumbuh bersama-sama padi. Azola dapat digunakan sebagai salah satu sumber protein nabati penyusun ransum ikan dan itik, karena mengandung protein yang cukup tinggi. Azola mengandung protein kasar 24-30%, kalsium 0,4-1%, fosfor 2-4,5%, lemak 3-3,3%, serat kasar 9,1-12,7%, pati 6,5%, dan tidak mengandung senyawa beracun (Lumpkin dan Plucknett,1982 dalam Haetami, 2002).
Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam mempengaruhi peningkatan tanaman padi. Azolla bisa mampu menambatkan N2-udara karena berasosiasi dengan sianobakteri (Anabaena azollae) yang hidup di dalam rongga daunnya. Asosiasi Azolla-Anabaena memanfaatkan energi yang berasal dari fotosintesis untuk mengikat N2-udara. Dimana kemampuan mengikat N berkisar antara 400 – 500 kg N/ha/th. Azolla relatif tahan pada kondisi asam, sehingga untuk mengembangkannya tidak memerlukan perlakuan tertentu (Sutanto, 2002).
Pemanfaatan azolla sebagai pupuk pengganti urea memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 – 5 persen, Phosphor (P) 0,5 – 0,9 persen dan Kalium (K) 2 – 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 – 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 – 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 – 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 – 0,16 persen. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi. Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan 1/4 – 1/3 dosis pemupukan. Dibanding pupuk buatan, azolla memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara (Anonim, 2008).
Keunggulan lain dari tanaman azolla ialah mampu menekan gulma air yang lain, sehingga dapat menghemat biaya penyiangan dan penggunaan herbisida. Azolla yang ditanam bersama-sama padi merupaka salah satu kelebihan, karena tidak diperlukan tambahan waktu untuk memproduksi biomassa.
Selain sebagai pupuk hayati dan pengendali gulma air penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Dengan adanya pengintegrasian padi, ikan, itik, azolla dan sapi selain menjadikannya sebagai pakan perikanan juga konstribusi dapat digunakan untuk peningkatan produksi padi.
Terlibatnya itik dalam integrasi ini selain memberikan tambahan keuntungan juga memberi keuntungan lain berupa adanya tambahan pupuk dari kotoran itik, meningkatkan kadar oksigen dalam tanah, dan meminimalkan gangguan gulma dan hama (serangga, siput, keong mas) karena dimakan oleh itik. Pakan untuk itik juga dapat dikurangi karena mendapat pakan tambahan dari organismepengganggu tumbuhan seperti gulma, serangga, siput, dan keong mas dari sawah.
Kehadiran ternak sapi dalam sistem usahatani padi merupakan komponen usaha yang bersifat saling melengkapi dan memberikan manfaat yang cukup besar kepada petani, disamping itu juga dapat mendorong petani untuk mengelola usahataninya secara optimal.Kotoran ternak sapi merupakan pupuk organik yang baik bagi tanah, jika kualitas pakan baik maka kualitas kotoran pun akan baik. Selain untuk pupuk organik kotoran ternak sapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas.
Feses yang dihasilkan oleh ternak sapi dapat memberikan manfaat positif pada ekosistem sawah. Kadar unsur hara yang terdapat dalam kotoran ternak berbeda-beda tergantung jenis makanannya. Komposisi unsur hara dari kotoran sapi yang berupa kotoran padat mengandung : 0,4 % Nitrogen, 0,2 % Fosfor, 0,10% Kalium dan 85% air. Untuk kotoran cair (urine) mengandung : 1% Nitrogen, 0,5% Fosfor, 1,5% Kalium dan 92% Air (Lingga & Marsono, 2007).
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan budidaya tanaman padi sawah berupa jerami selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik tanah juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Walaupun karakteristik jerami ditandai dengan rendahnya kandungan nitrogen, kalsium, dan fosfor, sedangkan kandungan serat kasarnya termasuk tinggi sehingga dapat mengakibatkan daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas tetapi hal ini dapat dipecahkan jika jerami ingin dijadikan pakan bagi ternak sapi yang bermutu maka terlebih dahulu perlu ditambahkan urea dan tetes (molasses) dimana proses ini biasa disebut amoniasi jerami. Urea dapat digunakan untuk memperbaiki kandungan nitrogen jerami padi yang sekaligus pula mampu meningkatkan konsumsi dan daya cernanya.
Pengaturan air pengairan pada budidaya tanaman padi sawah merupakan faktor penting sehingga perlu mendapat perhatian yang serius. Teknik pengaturan air sebagai berikut :
• Pengaturan air macak-macak dilakukan pada saat tanam sampai 3-4 HST. Genangan air yang berlebihan pada awal pertumbuhan akan menghambat pertubuhan tunas padi. Tinggi air cukup 3-5 cm dari permukaan tanah.
• Pengaturan air macak-macak juga dilakukan pada saat aplikasi pupuk susulan pertama dan kedua, agar penyerapan pupuk oleh tanaman lebih efektif.
• Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti pertumbuhan tanaman.
• Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan untuk mencegah keluar ikan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: